Tapanuli Tengah

Pascabencana di Tukka: Bertahan atau Mengungsi

459
×

Pascabencana di Tukka: Bertahan atau Mengungsi

Sebarkan artikel ini

WARTATERKINI.ID – TAPANULI TENGAH – Di hari kesebelas pascabencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Tukka, aroma lumpur masih menyengat di udara. Di setiap sudut permukiman, warga tampak sibuk menyapu genangan air bercampur lumpur yang mencoklat. Sesekali mereka berhenti, menarik napas panjang, seolah mencoba menguatkan diri menghadapi kenyataan yang tersisa.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa, 25 November 2025 itu masih membekas kuat. Tangisan warga pecah ketika air bah meluluhlantakkan rumah, harta benda, bahkan hewan peliharaan mereka. Dalam hitungan menit, derasnya debit air yang terus meninggi memaksa warga berlarian menyelamatkan diri. Tak ada waktu memikirkan barang berharga yang tertinggal hanya pakaian di tubuh.

Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat peringatan dini BMKG yang beredar tiga hari sebelumnya terbukti tak meleset. Namun, bagi warga Tukka, tak pernah terbayang bencana sebesar ini akan datang secepat itu.

Hingga hari ini, sebagian besar warga masih bertahan di GOR Pandan, tempat pengungsian yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah ada juga yg menetap di rumah sekolah. Mereka tidur beralaskan tikar, saling menguatkan dalam keterbatasan.

“Tak ada yang tersisa, bang. Rumah habis dibawa banjir bandang. Untuk sementara ngungsi di GOR saja dulu,” ujar Lase, warga yang melintas menuju Kota Pandan, Sabtu (6/12/25) sore.

Di pinggir sawah yang kini berubah menjadi hamparan lumpur, beberapa warga terlihat membersihkan rumah mereka. Gerakan tangan mereka lambat seperti kelelahan yang tak lagi bisa disembunyikan. Lumpur menutup hampir seluruh bagian rumah, meninggalkan bekas-bekas kehancuran yang sulit dihapus.

“Habis barang-barang kami. Lumpur di mana-mana. Aliran sungai sudah ke jalan… gimana lagi lah ini. Tumpukan kayu pun berserakan,” keluh seorang warga dengan suara parau.

Bantuan dari pemerintah daerah dan pusat mulai berdatangan dan dibagikan secara bertahap. Namun bagi warga, jalan menuju pemulihan masih panjang. Mereka hanya berharap ada kepastian bagi rumah-rumah yang hanyut dan hancur, agar kehidupan mereka bisa kembali berdiri di atas fondasi yang layak.

Di tengah lumpur yang belum kering dan kenangan yang belum pulih, warga Tukka terus berupaya bangkit secara perlahan.(Setiawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *