Tapanuli Tengah, Wartaterkini.id – Pembangunan revitalisasi UPTD SD Negeri 157626 Sipakpahi Hutari, Kec. Pasaribu Tobing, Tapanuli Tengah, yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 dengan pagu anggaran Rp760 juta lebih menuai sorotan dan minta penegak hukum periksa kerjaan tersebut.
Proyek yang seharusnya meningkatkan kualitas sarana pendidikan ini dipertanyakan karena pekerjaan di lapangan diduga tidak maksimal. Salah satu hal yang menjadi persoalan pemasangan keramik yang disebut dilakukan langsung di atas lantai lama tanpa terlebih dahulu membongkar permukaan sebelumnya.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan, kesesuaian metode pelaksanaan dengan spesifikasi teknis, serta pertanggungjawaban penggunaan anggaran negara yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa melihat kondisi pembangunan sekolah tersebut yang diduga asal jadi.
“Dari dulu kami melihat pengerjaannya seperti asal dibangun, padahal anggarannya besar. Bangunan lama saja bisa mengalami kerusakan, sementara jumlah siswa tidak terlalu banyak, kami mempertanyakan kualitas bangunan ini,” ujarnya, Selasa (27/10/26).
Ia juga menyoroti kondisi lantai yang menurutnya tak sesuai RAB, seyogianya langsung dipasangi keramik tanpa terlebih dahulu membongkar lantai bangunan lama.
“Lantai keramik saja langsung dipasang di atas lantai lama. Kami sudah melihat lantainya, tetapi keramik langsung dipasang di atasnya. Dengan anggaran sebesar itu, kami berharap pekerjaan dilakukan dengan baik dan sesuai standar,” katanya.
Warga tersebut meminta agar hasil pekerjaan diperiksa secara menyeluruh untuk memastikan kualitas bangunan sebanding dengan anggaran yang dialokasikan.
*Kepala Tukang Mengaku Bekerja Sesuai Arahan*
Saat dikonfirmasi di lokasi, seorang kepala tukang mengatakan bahwa dirinya bersama para pekerja hanya menjalankan pekerjaan sesuai arahan pihak pengelola dan pengawasan proyek.
“Kami hanya tukang di sini, Pak. Kami pekerja, apa yang disuruh, itu yang kami kerjakan. Kami mengikuti arahan dari pengawasan,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai pemasangan keramik langsung di atas lantai lama, ia kembali menegaskan bahwa pekerjaan dilakukan mengikuti arahan yang diterima di lapangan.
Menurutnya, bangunan sekolah tersebut sebenarnya membutuhkan perbaikan yang lebih menyeluruh. Namun, pekerjaan yang dilaksanakan terbatas pada bagian-bagian yang diperintahkan untuk direhabilitasi.
*Kepala Sekolah Persilakan Awak Media Melihat Langsung*
Sementara itu, M. Marbun selaku kepala sekolah, yang sebelumnya disebut menjabat sebagai pelaksana harian (Plh), turut dikonfirmasi media terkait sorotan pembangunan revitalisasi tersebut. Saat dimintai keterangan, M. Marbun memberikan jawaban singkat dengan nada kesal.
“Lihat saja sekolah, saya tidak tahu-menahu soal sekolah itu. Semuanya bebas melihat,” ujar M. Marbun kepada media saat dikonfirmasi.
*Penegak Hukum Didesak Turun Tangan*
Sejumlah masyarakat yang anaknya bersekolah di SDN 157626 Sipakpahi Hutari berharap pembangunan tersebut tidak hanya selesai secara administratif, tetapi benar-benar menghasilkan fasilitas pendidikan yang aman, kokoh, dan nyaman bagi para siswa.
Mereka mendesak Dinas Pendidikan Tapteng dan Inspektorat melakukan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan, termasuk material yang digunakan, volume pekerjaan, metode pemasangan keramik, serta kesesuaian hasil pembangunan dengan spesifikasi teknis.
Aparat penegak hukum, termasuk Kejaksaan Negeri Sibolga sesuai kewenangan dan yurisdiksinya, juga diharapkan menindaklanjuti apabila ditemukan indikasi penyimpangan yang didukung bukti.
Sementara saat dikonfirmasi kepala SDN 157626 Sipakpahi Hutari, A Marbun belum memberikan keterangan resminya kepada awak media.(red)












