Tapanuli Tengah, Wartaterkini.id – Dukungan masyarakat untuk mengungkap penyebab kematian Boy Simamora (21) terus mengalir. Keluarga korban bersama Forum Masyarakat Adil untuk Semua (FORMAS) menggelar gerakan pengumpulan 1.000 tanda tangan sebagai bentuk dukungan agar kasus tersebut diusut secara profesional, transparan, dan tuntas.
Setelah sebelumnya dilaksanakan di Kecamatan Sirandorung, aksi pengumpulan tanda tangan kembali digelar di Alun-alun Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (8/7/2026). Warga yang hadir turut membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk solidaritas kepada keluarga korban.
Keluarga Boy Simamora menilai masih terdapat sejumlah kejanggalan dalam peristiwa yang menyebabkan korban ditemukan meninggal dunia di Sungai Saga Matua, Desa Sampang Maruhur.
Mereka meminta aparat kepolisian membuka seluruh kemungkinan penyebab kematian, termasuk dugaan adanya unsur tindak pidana.
Ayah korban, Lamsehat Simamora (46), mengaku keluarga belum menerima sepenuhnya informasi awal yang menyebut Boy meninggal akibat diserang buaya.
“Ada kejanggalan terhadap anak kami ini. Dibilang dimakan buaya, ternyata bekas gigitan buaya tidak ada dari ujung kepala sampai kaki. Yang ada justru lubang di lehernya,” ujarnya.
Menurut Lamsehat, ketidaksesuaian antara informasi awal dengan kondisi fisik jenazah menjadi alasan keluarga terus memperjuangkan kepastian penyebab kematian putranya.
“Biar kami tahu apa hasilnya, apakah memang dimakan buaya atau ada pembunuhan,” katanya.
Usai aksi pengumpulan tanda tangan, keluarga bersama FORMAS mendatangi Mapolres Tapanuli Tengah untuk menyerahkan lembar dukungan masyarakat kepada Kapolres Tapanuli Tengah. Berkas tersebut diserahkan oleh Ketua FORMAS, Edianto Simatupang, dan diterima Kasat Reskrim Polres Tapanuli Tengah, IPTU Dian Agustian Perdana, di ruang Satreskrim.
Edianto mengatakan, gerakan tersebut merupakan bentuk empati masyarakat sekaligus dorongan agar penyelidikan dilakukan secara terbuka sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Kalaupun memang dimakan buaya, sampaikan dengan baik sehingga masyarakat merasa aman dan nyaman. Jangan sampai muncul dugaan-dugaan yang akhirnya memicu konflik,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Kasat Reskrim Polres Tapanuli Tengah, IPTU Dian Agustian Perdana, menegaskan penyelidikan masih terus berlangsung.
Ia menjelaskan, penyidik telah menerima hasil rekonstruksi dan pada Kamis ini pihak keluarga dijadwalkan menghadiri gelar perkara guna memperoleh penjelasan mengenai perkembangan penyelidikan.
Menurut Dian, penyidik juga masih menunggu pendapat ahli untuk memperkuat hasil penyelidikan. Sementara hasil autopsi masih disusun oleh tim dokter forensik RSUD Pandan.
“Nanti mereka yang akan menjelaskan,” pungkasnya.(red)












