Batangtoru, Wartaterkini.id – Sebelum dipercaya menjadi Supervisor di Martabe Chicken Farm, Habib Hairi (32), warga Desa Wek III, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, memulai usahanya sebagai peternak ayam rumahan dengan pengetahuan yang diperoleh secara otodidak.
Kini, Habib menjadi salah satu mitra kerja PT Agincourt Resources (PTAR) yang mengelola ribuan ekor ayam petelur di Martabe Chicken Farm, di Desa Napa, Kecamatan Batangtoru.
Habib mengaku banyak memperoleh ilmu dan pengalaman baru sejak bergabung dengan PTAR. Menurutnya, perusahaan memberikan berbagai pelatihan dan pendidikan khusus di bidang peternakan ayam sehingga pengetahuannya semakin berkembang.
“Alhamdulillah setelah bersama PTAR ilmu saya bertambah. PTAR memberikan fasilitas pelatihan dan pendidikan khusus di dunia peternakan ayam,” ujarnya, Sabtu (6/6/26) siang.
Martabe Chicken Farm merupakan salah satu program pengembangan ekonomi berkelanjutan yang dipersiapkan PTAR untuk mendorong sektor non-tambang sebagai penggerak ekonomi masyarakat Batangtoru. Program ini juga mendukung ketahanan pangan dan memperkuat perekonomian petani lokal.
Saat ini, peternakan tersebut memelihara sekitar 1.300 ekor ayam petelur dengan produksi rata-rata mencapai 1.100 butir telur per hari atau tingkat produktivitas sekitar 84 persen dan terus meningkat.
Dalam pengembangannya, PTAR menerapkan sistem contract farming dengan menggandeng petani jagung sebagai pemasok bahan pakan. Skema ini memberikan kepastian pasar dan harga yang lebih stabil bagi petani sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka.
Selain itu, pengelolaan peternakan juga melibatkan pemuda lokal dan siswa SMK serta mendapat pendampingan teknis dari perusahaan peternakan nasional. Saat ini unit usaha tersebut telah memiliki arus kas mandiri dari hasil penjualan telur.
*Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan*
Habib menyebut cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama dalam usaha peternakan ayam petelur. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian ternak.
Untuk mengantisipasinya, pihak peternakan melakukan penyemprotan disinfektan setiap hari, membatasi kunjungan ke kandang, serta menjaga kebersihan lingkungan peternakan secara rutin.
“Untuk menjaga angka kematian tetap rendah, kami melakukan penyemprotan disinfektan setiap hari, membatasi kunjungan ke kandang, serta rutin membersihkan kandang,” katanya.
Selain itu, ayam yang sakit akan mendapatkan penanganan medis sesuai kebutuhan. Program vaksinasi juga dilakukan secara berkala setiap bulan maupun dalam interval tiga hingga empat bulan.
*Produksi dan Pemasaran Telur*
Ayam yang dipelihara dibeli dalam bentuk pullet berusia sekitar 13/14 minggu sebelum dibesarkan hingga memasuki masa produksi.
Telur yang dihasilkan dipasarkan kepada masyarakat umum dan penyedia jasa katering dengan harga sekitar Rp52.000 per papan.
Produksi untuk kebutuhan katering dan usaha lainnya mencapai sekitar 3.000 butir per minggu, sementara sisanya dijual langsung kepada masyarakat.
Tingginya minat masyarakat terhadap telur dari Martabe Chicken Farm karena kualitasnya yang baik dan masih segar saat dipasarkan.
*Kotoran Ayam Dimanfaatkan Menjadi Pupuk dan angka Kematian ternak*
Tidak hanya menghasilkan telur, limbah peternakan juga dimanfaatkan secara produktif. Kotoran ayam yang dihasilkan disalurkan kepada petani jagung melalui kerja sama yang telah terjalin dan digunakan sebagai pupuk.
Sejak awal pemeliharaan, angka kematian ternak tercatat sekitar 30 ekor. Sebagian ayam yang mati juga diperiksa untuk mengetahui penyebab kematian, baik karena penyakit maupun faktor lainnya.
Saat ini kebutuhan pakan mencapai sekitar 150 hingga 158 kilogram per hari, belum termasuk vitamin dan suplemen tambahan.
*Populasi ayam akan ditingkatkan*
Target populasi naik hingga 6.000 Ekor
Ke depan, Martabe Chicken Farm akan terus dikembangkan. Dari kapasitas saat ini sekitar 1300 ekor, populasi ayam ditargetkan meningkat menjadi 4.000 hingga 6.000 ekor melalui pembangunan kandang baru yang tengah dipersiapkan.
Dengan penambahan populasi tersebut, produksi telur diharapkan semakin meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
“Penambahan populasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi telur dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih besar,” pungkas Habib.(red)












